Minazh Zhulumaati Ilan Nuur

antik3

30 Sep 09

YANG PENTING NIAT! CUKUPKAH ITU?

Filed under: An-nashiihah



Oleh Al Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin
 
(Dari Amir l’Mu’minin Abi Hafsh Umar ibn Al Khaththaab Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung kepada niatnya. Dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada ALLAH dan Rasul-NYA, maka hijrahnya kepada ALLAH dan Rasul-NYA. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikejarnya atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia (niatkan) hijrah kepada nya.”) (HR: Bukhari-Muslim)
Hadits di atas begitu popular di kalangan kaum muslimin. Sering sekali kita mendengar ucapan: “Yang penting niat. Bukankah niat kita baik” Dan sangat boleh jadi pengucapnya hanya tahu sedikit atau sebagian dari kaedah ini. Mungkin dia mendengar hanya potongan dari hadits ini yang diucapkan seseorang, mungkin juga lengkap tetapi telah disimpangkan pengertiannya oleh orang yang ia dengar dari nya hadits ini. Akhirnya semakin jauhlah apa yang sering diucapkan kebanyakan kaum muslimin dengan maksud sesungguhnya dari hadits di atas, bahkan bertentangan sama sekali.
Sesungguhnya hadits ini sangat mulia dan keluar dari lisan manusia yang paling mulia. Oleh karena nya wajib bagi kita untuk mengetahui dan mempelajari nya, sebagaimana para ulama kita memberikan perhatiannya yang khusus terhadap hadits ini.
Beberapa komentar para ulama di bawah ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya hadits ini di dalam Islam.
1. Imam Asy-Syafi’i, “Hadits Niat masuk di dalam tujuh puluh bab masalah-masalah fiqh.”
2. Imam Ahmad ibn Hanbal,”Pokok ajaran Islam terdapat pada tiga buah hadits. Hadits Umar (hadits yang kita bicarakan sekarang), Hadits Aisyah, dan Hadits Nu’man ibn Basyir.”
3. Imam Syaukaani,” Hadits Niat merupakan sepertiga ilmu (-di dalam Islam-).
4. Imam Ibn Rajab,”Hadits Niat merupakan timbangan bagi amalan bathin, sedangkan Hadits Aisyah (من أحدث….) merupakan timbangan bagi amalah dzahir.”
5. Imam Abu Sa’id Abdurrahman ibn Mahdi,” Siapa saja yang hendak menulis sebuah kitab, hendaknya ia membuka dan memulainya dengan membawakan hadits Niat.”
Demikianlah di antara beberapa ucapan para ulama berkaitan dengan hadits Niat yang menunjukkan betapa mereka memberikan perhatian khusus terhadap hadits ini. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan hadits ini sebagai perkara yang pertama dibahas di dalam tulisan mereka, yang antara lain dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap hadits ini, agar para pencari ilmu membenarkan dan meluruskan niat mereka ketika mereka hendak mempelajari agama ini (Islam), dan juga tentunya masih banyak lagi faedahnya. Mereka yang memulai kitabnya dengan hadits ini adalah Imam Al Bukhari (dalam Shahih-nya), Imam An-Nawawi (Riyadlush-Sholihin dan Al Arba’in-nya), Taqiyuddin Al Maqdisi (Umdatul Ahkam), dan Imam Asy-Syuyuthiy (Jami’ush-Shaghir) .
Di antara faedah, fiqh, atau hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini sebagaimana kita dapati dari keterangan para ulama adalah:
1. Niat merupakan bagian dari Iman.

Niat merupakan amalan hati. Sedangkan ta’rif (difinisi) Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah : Diyakini di dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan dibuktikan dengan anggota badan dan perbuatan….Oleh karena nya pula Imam Bukhari meletakkan hadits ini di dalam Kitab Al Iman. Bukankah ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala mencatat niat-niat baik kita dengan pahala yang sempurna meskipun amalan tersebut belum kita wujudkan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai berikut:
فمن همَّ بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة) متفق عليه)
(Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikan tetapi belum mengamalkannya, ALLAH mencatat bagi orang tersebut di sisi-NYA dengan kebaikan yang sempurna) (Muttafqun alaih)
2. Wajib mengetahui hukum dari sebuah amalan sebelum mengerjakannya.
Setiap muslim wajib mengilmui sesuatu sebelum mengamalkannya. Apakah amalan tersebut disyari’atkan atau tidak, apakah itu wajib atau semata mustahab (disukai)? Dan telah masyhur bagi kita (kaum muslimin) sebuah kaedah yang berbunyi : (Ilmu sebelum berkata dan bertindak). Bahkan Imam Bukhari menulis demikian pada salah satu judul babnya. Dalilnya diambil dari Firman-ALLAH :
فأعلم أنه لاإله الا الله واستغفرلذنبك (سورة محمد: 19)
(Maka ilmuilah bahwasanya tak ada yang berhak diibadahi kecuali ALLAH dan istighfarlah atas dosamu) (Muhammad:19)
Maka tidak layak bagi kita berkata, “Oh…jadi perbuatan saya itu salah, ya. Saya khan belum tahu hukumnya.” Terlebih lagi kalau itu perkara agama atau ibadah.
3. Disyaratkannya niat pada amalan-amalan keta’atan.
Amalan ta’at yang tidak disertai dengan niat tidaklah dikatakan keta’atan. Begitu pula kebaikan-kebaikan tidaklah menjadi ibadah jika tidak disertai niat untuk beribadah. Karena nya pertama-tama perlu kita mengetahui apa fungsi niat bagi amal. Sesungguhnya niatlah yang membedakan sebuah amalan.
Pertama: dibedakannya amalan ibadah dengan kebiasaan atau yang bukan bersifat ibadah. Seseorang yang mandi keramas untuk kebersihan tak perlu berniat sebagaimana orang yang mandi keramas karena junub.
Kedua: dibedakannya antara ibadah yang sama satu sama lain. Jika kita dapati seseorang berpuasa di bulan Syawal, misalnya. Maka boleh jadi orang tersebut sedang membayar hutang puasanya, boleh jadi ia sedang puasa Syawal, atau boleh jadi ia sedang puasa sunnat lainnya. Yang membedakan dan menentukan untuk apa amalan tersebut adalah niatnya.
Ketiga: dibedakannya maksud dan tujuan sebuah amalan. Seseorang mengerjakan keta’atan bahkan perbuatan yang bersifat ibadah. Maka apakah perbuatan tersebut diniatkan untuk mendapatkan keridloan ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala atau mengharapkan selain dari itu ditentukan oleh niatnya.
4. Pentingnya ikhlas di dalam beramal.
Ada sebagian ulama yang menafsirkan ma’na Niat ini dengan Ikhlas. Yang demikian juga benar, karena artinya: Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung kepada keikhlasan pelakunya. Sebuah amal betapapun baik atau bermanfa’atnya itu jika tidak dilandasi keikhlasan tidak akan diterima oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala.
وما أمروا إلا ليعبدوالله مخلصين له الدين…(البينة: 5)
(Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar beribadah kepada ALLAH dengan mengikhlaskan agama ini semata-mata bagi NYA…) (Al Bayyinah: 5)
Sungguh ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala tidak membutuhkan keringat atau harta kita. Dan mengikhlaskan amalan semata-mata karena ALLAH merupakan wujud mentauhidkan ALLAH. Artinya, ikhlas juga merupakan sebuah tuntutan dan konsekuensi dari diciptakannya kita oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala.
Sayangnya, masih banyak orang yang salah mengerti tentang ma’na ikhlas. Menurut mereka, ikhlas itu artinya tidak menuntut apa-apa dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala. Bahkan mereka beranggapan bahwa, barangsiapa beribadah untuk mengharapkan surga maka itu ibadahnya pedagang. Dan barangsiapa beribadah karena takut akan neraka maka itu ibadahnya budak. Ada lagi yang berkata, “Hendaknya kita malu untuk meminta-minta kepada ALLAH, karena IA telah banyak memberikan segala sesuatu kepada kita. Apalagi, ALLAH Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan tanpa harus kita meminta.” Ada lagi yang lebih lancang semoga ALLAH memberi nya hidayah dengan memperumpamakan ikhlas itu keadaannya seperti kita buang air besar, di mana kita tidak memperdulikan apa yang keluar dari perut kita dan bahkan kita merasa lega setelah membuang nya. Alangkah berbahayanya ucapan ini dan alangkah buruknya perumpamaan yang mereka berikan.
Pertama: mereka telah mendustakan janji-janji dan ancaman-ancaman ALLAH. Lantas buat apa ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala menjanjikan kita sorga dan menakut-nakuti kita dengan neraka, jika ibadah kita bukan karena itu?
Kedua: mereka menantang kemurkaan ALLAH dan menolak keridloan-NYA. Dan jika orang tersebut tidak bertobat dari keyakinannya, sangat boleh jadi ia tak akan masuk sorga karena memang ia tak mengharapkannya, dan ia akan dimasukkan ke neraka karena mengatakan tidak takutnya kepada neraka. ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala menggambarkan ikhlas dengan perumpamaan yang baik, sedang mereka menggambarkannya dengan perumpamaan yang buruk.
Ketiga: menyelisihi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan merasa lebih baik dari beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bukankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saja berdoa ,” Ya, ALLAH. Aku mengharapkan ridlo-MU dan Surga. Dan aku berlindung dari murka-MU dan Neraka.”
Keempat; melecehkan perintah ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala. Bukankah ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala telah memerintahkan hamba-NYA agar berdo’a:
(Dan berkata Rabb kalian: “Berdo’alah kalian kepada KU, niscaya KU penuhi untuk kalian…”) (Al Mu’min: 60)
Hendaknya kita senantiasa memperhatikan gerak hati kita, karena keikhlasan kita senantiasa diuji.
Pertama: sebelum beramal, yakni berupa niat. Kepada siapa dan karena apa kita niatkan amalan kita?
Kedua: ketika tengah beramal. Boleh jadi amalan yang semula lhklas terganggu disebabkan ada kejadian-kejadian khusus dan tak terduga. Sebagai contoh, kita marah ketika ucapan salam kita tidak dijawab, atau sedekah kita ditolak mentah-mentah, atau kita tambah bersemangat ketika tahu amalan kita ada yang memperhatikan. Ke-tiga; ketika amal telah berlalu. Tanpa sadar setelah mungkin bertahun-tahun kita sembunyikan, tiba-tiba dalam sebuah obrolan kita bangkit-bangkitkan jasa kita dahulu.
5. Baik buruknya amal bergantung kepada niat pelakunya.
Sebuah amal kebaikan akan menjadi ibadah yang diterima manakala diniatkan dengan niat yang baik, berupa keikhlasan, Dan akan menjadi buruk manakala diniatkan dengan niat buruk, berupa ksyirikan baik kecil apalagi besar. Akan tetapi seseorang tidak boleh menghalalkan yang haram semata-mata dengan alasan baiknya niat. Dan berangkat dari perkara inilah sesungguhnya judul tulisan di atas dibuat.
Di dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan pembatasan pada kata Amal, di mana yang dimaksudkan adalah amalan-amalan keta’atan. Apalagi kemudian beliau tegaskan dengan contoh Hijrah. Maka tidak boleh kita meng-qiyas-kan amalan yang baik ini dengan amalan yang buruk, seperti mencuri misalnya.
Namun, akhir-akhir ini manusia bermudah-mudahan mengatakan, “Yang penting niat.” Atau ,”Niat kita khan baik.” Maka kemudian ditempuhlah segala cara, dihidupkanlah segala macam yang tidak disyari’atkan, dan ditempuhlah segala jalan yang tidak ada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada nya. Semua atas nama baiknya niat. Cukupkah itu? Cukupkah segala sesuatu hanya dengan alasan baiknya niat? Sungguh tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang mengaku punya niat buruk. Bukankah para penjahat juga jika ditanya kenapa ia melakukan kejahatan itu, niscaya mereka mengatakan bahwa niat mereka baik untuk menafkahi anak dan isteri.
Seandainya memang amalan yang buruk atau jahat itu bisa menjadi baik karena niat dan yang haram bisa menjadi halal (bukan dalam hal darurat) juga karena niat, maka apa bedanya ajaran yang suci ini (Islam) dengan Machiavalisme, sebuah falsafah Tujuan Menghalalkan Cara yang digagas oleh si kafir Nicolo Machiavale ?.
Maka hendaknya berhati-hati dalam mengatakan (“Yang penting niat.”) atau (“Niat kita khan baik.”). Boleh jadi yang mengucapkan mengira dia mengutip hadits yang mulia dan menganggap dirinya sedang mengagungkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, padahal tanpa ia sadari ia sedang mengutip filsafat hina dan sedang mengagungkan si kafir tadi. (Na’uzubillah).
Penutup
Masih banyak faedah, fiqh, atau hikmah yang dapat kita petik selain yang telah disebutkan di atas seperti, keutamaan hijrah, balasan sesuai amalan, atau syarat diterimanya ibadah. Namun kami cukupkan pembahasan di dalam perkara yang berkaitan langsung dengan judul di atas dan dengan permasalahan yang hendak kami bahas.
Dengan melihat bagaimana para ulama berkomentar tentang hadits ini, tidak sedikitnya kitab-kitab yang diawali dengan hadits ini bahkan itu semua adalah kitabkitab yang terkenal-, dan begitu banyaknya ulama belakangan yang menguraikan nya, cukuplah ketidakhafalan dan ketidakpahaman kita akan hadits ini sebagai bukti ketidakseriusan kita dalam beragama.
Sumber: Buletin Jum’at Risalah Tauhid Edisi 32, diambil dari http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=47

'Abdullah bin 'Abbas Radhiyallahu 'anhu (wafat 68 H)

Filed under: SalafushSholih

 Abdullah bin Abbas adalah sahabat kelima yang banyak meriwayatkan hadist sesudah Sayyidah Aisyah, ia meriwayatkan 1.660 hadits.

 

Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti harits saudari ummul mukminin Maimunah.

 


Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki dengan Informan Umat Islam. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat Abbasiah. Dia dilahirkan di Mekah dan besar di saat munculnya Islam, di mana beliau terus mendampingi Rasulullah sehingga beliau mempunyai banyak riwayat hadis sahih dari Rasulullah . Beliau ikut di barisan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang Shiffin. Beliau ini adalah pakar fikih, genetis Arab, peperangan dan sejarah. Di akhir hidupnya dia mengalami kebutaan, sehingga dia tinggal di Taif sampai akhir hayatnya.

 


Abdullah lahir tiga tahun sebelum hijrah dan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendoakannya “
Ya Allah berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)”.Allah mengabulkan doa Nabi-nya dan Ibnu Abbas belakangan terkenal dengan penguasaan ilmunya yang luas dan pengetahuan fikihnya yang mendalam , menjadikannya orang yang dicari untuk di mintai fatwa penting sesudah Abdullah bin Mas’ud, selama kurang lebih tiga puluh tahun.

 

Tentang Ibnu Abbas, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata :”Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih mengerti dari pada Ibnu Abbas tentang ilmu hadits Nabi Shallallahu alaihi Wassalam serta keputusan2 yang dibuat Abubakar ,Umar , dan Utsman“.

 


Begitu pula tentang ilmu fikih ,tafsir ,bahasa arab , sya’ir , ilmu hitung dan fara’id. Orang suatu hari menyaksikan ia duduk membicarakan ilmu fiqih, satu hari untuk tafsir, satu hari lain untuk masalah peperangan, satu hari untuk syair dan memperbincangkan bahasa Arab. Sama sekali aku tidak pernah melihat ada orang alim duduk mendengarkan pembicaraan beliau begitu khusu’ nya kecuali kepada beliau. Dan setiap pertanyaan orang kepada beliau, pasti ada jawabannya”.

 


Menurut An-Nasa’I, sanad hadits Ibnu Abbas paling Shahih adalah yang diriwayatkan oleh az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utba, dari Ibnu abbas. Sedangkan yang paling Dlaif adalah yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Marwan as-Suddi Ash-Shaghir dan Al-Kalabi, dari Abi Shalih. Rangkaian ini disebut silsilah Al-Kadzib (silsilah bohong).

 


Ibnu Abbas mengikuti Perang Hunain, Thaif, Penaklukan Makkah dan haji wada’. Ia menyaksikan penaklukan Afrika bersama Ibnu Abu as-Sarah. Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama Ali bin Abi Thalib. Ia wafat di Thaif pada tahun 68 H. Ibnu al-Hanafiyah ikut menshalatkanya.

 

 


Disalin dari : Biografi Ibnu Abbas dalam Al-Ishabah no.4772

Sumber: http://ahlulhadiits.wordpress.com

Batas Waktu Nifas

Tanya:

Bismillah,

Assalamualaikum,
Ustadz yang semoga selalu dirahmati Allah, ana mau tanya tentang masalah nifas.

 

Istri ana melahirkan anak kembar sebelum Bulan Ramadhan kemarin (tgl 11Agustus 2009) dengan operasi cesar, setelah itu mengawali nifas. Awal mula darah yang keluar cukup banyak, kemudian makin berkurang, namun setelah hari ke 32, darah yang keluar kembali agak banyak bahkan seminggu ini darah yang keluar banyak sekali hingga tembus keluar baju, kadang disertai gumpalan hitam kecil (mungkin sisa plasenta yang nempel di dinding rahim), perlu diketahui bahwa darah yang keluar tidak menunjukkan ciri darah haid.  Sampai sekarang hari ke 45 istri ana belum melakukan ibadah shalat, karena masih menganggap itu darah nifas, sehingga dilarang sholat (sebelumnya terltulis "haid"). Yang Ana tanyakan 

 

1. Apakah ada batasan maksimal bagi wanita yang nifas?

 

2. Seandainya maksimal 40 hari, kemudian bagaimana dengan sholat wajib yang ditinggal selama ini (5 hari)?

 

Jazakallahu khairan, atas jawabannya nya, karena ini menyangkut kewajiban shalat istri ana.

 

Jawab:

Bismillahirrahmanirrahim,

 

Berkaitan dengan batasan waktu nifas, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Mayoritas ulama berpendapat bahwa masa maksimal nifas adalah empat puluh hari. Pendapat ini merupakan pendapat Ulama mazhab Hanafiyah, Sufyan ats-Tsauri, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya. Sementara ulama mazhab Syafi’iyah berpendapat bahwa batas maksimal adalah enam puluh hari, dan yang sering terjadi adalah empat puluh hari.

 

Imam at-Tirmidzi hingga mneyatakan, ”Ulama dari generasi sahabat, tabi’in dan generasi berikutnya telah sepakat bahwa wanita-wanita nifas meninggalkan shalat selama empat puluh hari, kecuali jika dia melihat tanda bersih sebelumnya. Maka dia diharuskan mandi lalu mengerjakan shalat.

 

Apabila dia melihat darah setelah lewat masa empat puluh hari, maka sebagian besar ulama berpendapat, wanita tersebut tidak diperbolehkan meninggalkan shalat setelah lewat empat puluh hari.”

 

Terdapat beberapa hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW berkaitan dengan penentuan batas empat puluh hari bagi masa nifas. Diantaranya dari hadits Ummu Salamah, Anas dan Abu Hurairah. Sebagian besar hadits tersebut dha’if, selain hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. Haditsnya di hasankan oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam al-Irwa`. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

 

 

Adapun berkaitan dengah shalat wajib yang telah terlewatkan oleh seorang wanita ”yang menyangka dalam keadaan hadats akibat nifas” dikembalikan kepada persoalan yang sering menjadi perbincangan di kalangan fuqaha`: Tentang ada tidaknya udzur karena ”al-jahlu” atau :at-takwil” dalam masalah-masalah fiqh ibadah ?

 

Wallahu a’lam bishshawab-, mayoritas fuqaha` membenarkan adanya udzur dalam masalah-masalah fiqhiyah tersebut.

 

 

 


Dan ini terlepas, jika antum berpendapat yang shahih dalam masalah ini adalah pendapat ulama asy-syafi’iyah. Karena dengan demikian konsukuensi diatas tidak berlaku.


Abu Zakariya al-Makassari

29 Sep 09

Cintakah ALLAH kepadaku?

Filed under: An-nashiihah

Abu Khaulah Zainal Abidin

 

Wahai orang-orang yang berbuat baik, yakni yang menginfaqkan hartanya di jalan ALLAH untuk segala bentuk ibadah dan keta’atan. Ketahuilah, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mencintai kalian. Dan itu ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendirilah yang mengatakan, di dalam berbagai kesempatan dan berbagai ungkapan:

 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

 

(Artinya: Sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan) (Al Baqarah: 195)/(Al Maa”idah: 13)

 

Masya ALLAH, kalian sungguh membuat diriku iri dan merasa tiada berarti di hadapan ALLAH. Kalian telah menginfaqkan harta di jalan ALLAH justru di saat kalian sendiri sangat membutuhkannya. Kalian tak pernah ragu dan merasa rugi berdagang dengan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Di manakah aku dibanding kalian?

 

Wahai orang-orang yang bertobat dan menyucikan dirinya, yakni yang meninggalkan perbuatan dosa serta menjaga amalannya dari kesyirikan. Ketahuilah, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mencintai kalian. Dan itu ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendirilah yang mengatakan:

 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

 

(Artinya: Sesungguhnya ALLAH mencintai orang yang tobat dan mencintai orang yang menyucikan diri.) (Al Baqarah: 222)

 

Masya ALLAH, kalian sungguh membuat diriku iri dan merasa tiada berarti di hadapan ALLAH. Kalian adalah orang-orang yang bersegera di dalam meninggalkan kemaksiatan serta senantiasa waspada terhadap segala bentuk ketidakikhlasan di dalam beribadah. Di manakah aku dibanding kalian?

 

Wahai orang-orang yang bertaqwa, yakni yang senantiasa mengerjakan perintah ALLAH serta menjauhi larangan-Nya. Ketahuilah, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mencintai kalian. Dan itu ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendirilah yang mengatakan, di dalam berbagai kesempatan dan berbagai ungkapan:

 

فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

 

(Artinya: Maka sesungguhnya ALLAH mencintai orang yang bertaqwa.) (Ali Imran: 76) / (At-Taubah: 4/7)

 

Masya ALLAH, kalian sungguh membuat diriku iri dan merasa tiada berarti di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Kalian sangat takut terhadap adzab, sehingga kalian tak pernah menganggap kecil setiap dosa. Untuk itu kalian membuat jarak dari segala bentuk kemaksiatan, sehingga ALLAH senantiasa bersama kalian. Di manakah aku dibanding kalian?

 

Wahai orang-orang sabar, yang ketika ditimpa musibah mengatakan: Sesungguhnya kami milik ALLAH dan kepada Nya jugalah kami akan kembali. Ketahuilah, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mencintai kalian. Dan itu ALLAH sendirilah yang mengatakan:

 

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

 

(Artinya: Dan sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang yang bersabar.) (Ali Imran:146)

 

Masya ALLAH, kalian sungguh membuat diriku iri dan merasa tiada berarti di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Betapa tidak. Kalian adalah orang yang pandai menahan diri di dalam ta’at, di dalam menghadapi maksiat, dan di dalam menghadapi cobaan, sehingga ALLAH  senantiasa bersama kalian. Tidaklah ujian dan musibah menimpa kalian, kecuali dengannya ALLAH memberikan kalian pujian dan hidayah. Di manakah aku dibanding kalian?

 

Wahai orang-orang yang bertawakal, yang tidak pernah bergantung kecuali hanya kepada ALLAH . Ketahuilah, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mencintai kalian. Dan itu ALLAH sendirilah yang mengatakan:

 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 

(Artinya: Sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang yang bertawakal kepadaNya-) (Ali Imran: 159)

 

Masya ALLAH, kalian sungguh membuat diriku iri dan merasa tiada berarti di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Betapa tidak. Kalian adalah orang yang sangat yakin serta berlapang dada terhadap ketetapan ALLAH. Kalian juga begitu yakin akan pertolongan ALLAH, sehingga ALLAH benar-benar memelihara dan menjaga keselamatan kalian. Di manakah aku dibanding kalian?

 

Wahai orang-orang yang adil, yang menimbang tidak berat sebelah, yang menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya, dan menghukum yang bersalah sesuai dengan kadar kesalahannya. Ketahuilah, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mencintai kalian. Dan itu ALLAH sendirilah yang mengatakan, di dalam berbagai kesempatan dan berbagai ungkapan:

 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

 

(Artinya: Sesungguhnya ALLAH mencintai orang yang berlaku adil) (AlMaa’idah: 42) /(Al Hujarat: 9) /(Al Mumtahanah: 8)

 

Masya ALLAH, kalian sungguh membuat diriku iri dan merasa tiada berarti di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Betapa tidak. Kawan atau lawan tak membutakan kalian dari kebenaran, sehingga kelak kalian ditempatkan di mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan Ar-Rahman. Di manakah aku dibanding kalian?

 

Wahai orang-orang yang berjuang di jalan ALLAH dalam barisan yang rapih dan kokoh, yang tidak membiarkan adanya celah sedikitpun yang dapat melemahkan dan memecah belah barisan kaum muslimin. Ketahuilah, bahwa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mencintai kalian. Dan itu ALLAH sendirilah yang mengatakan:

 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

 

(Artinya: Sesungguhnya ALLAH mencintai mereka yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan seperti sebuah bangunan yang tersusun kokoh) ( Ash-Shaff: 4)

 

Masya ALLAH, kalian sungguh membuat diriku iri dan merasa tiada berarti di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Betapa tidak. Kalian adalah orang-orang yang bersegera memenuhi panggilan jihad di jalan ALLAH, kemudian segera menyatukan barisan. Tak ada yang kalian pikirkan kecuali kemenangan dan kemuliaan agama Islam. Di manakah aku dibanding kalian?

 

Wahai orang-orang yang dicintai ALLAH. Di mana kalian ? Tak pernah kujumpa orang-orang semacam kalian. Ataukah mataku yang buta? Tak kudengar suara kalian. Atau memang kalian diam?

 

Wahai orang-orang yang dicintai ALLAH. Kutahu kalian capai itu semua lewat satu jalan. Ya, hanya satu jalan. Dan jalan itu tidak lain adalah Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Aku juga baca yang kalian baca:

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 

(Artinya: Katakan (-Ya, Muhammad-): Jika kalian mencintai ALLAH, maka ikutilah sunnahku. ALLAH pun akan mencintai kalian dan menghapuskan dosa-dosa kalian. Dan ALLAH Maha Pengampun lagi Pengasih) (Ali Imran:31)

 


Wahai orang-orang yang dicintai ALLAH. Sungguh mengaku cinta kepada ALLAH sebagaimana yang aku merasa detik ini ternyata tidaklah semudah memperoleh cinta-Nya. Di manakah aku dibanding kalian? Ya, cintakah ALLAH kepadaku sebagaimana Ia cinta kepada kalian?

 

 

 Sumber: http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com

 

Berawal dari Pandangan Mata

Penulis : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran

‘Pandangan mata’ ternyata bukan perkara remeh. Darinya, bisa muncul berbagai macam bahaya atau kejelekan bagi yang dipandang. Sekilas memang tak masuk akal, namun banyak kenyataan menunjukkan sebaliknya.

Si kecil tumbuh begitu lincah dan menggemaskan. Duhai, tak ada yang pantas diucapkan selain rasa syukur kepada Rabb seluruh alam! Betapa bahagia rasanya memandang dan menikmati segala tingkah dan celotehnya.

Tak jarang komentar kekaguman berdatangan dari setiap mata yang memandang. Namun ungkapan semacam itu terkadang dianggap tabu, hingga ayah atau ibu biasanya segera menyergah, “Jangan dipuji, nanti jadi sakit lho!” atau pun dengan tanggapan-tanggapan semacam.

Terkadang pula terjadi, ayah dan ibu dibuat bingung karena buah hati mereka jatuh sakit, rewel, atau turun berat badannya tanpa sebab yang pasti. Pengobatan di dokter ahli sekalipun seakan tak membawa hasil.

Ada apa sebenarnya di balik pujian? Benarkah pujian dapat menyebabkan si buah hati jadi celaka? Ataukah ada faktor lainnya? Haruskah kita mempercayai sesuatu yang rasanya sulit dicerna oleh akal itu?

Sesungguhnya semua itu bukan semata akibat dari pujian yang terlontar, akan tetapi berawal dari pandangan. Pandangan mata seseorang dapat berpengaruh buruk pada diri orang yang dipandang, baik pandangan mata itu menatap dengan kedengkian atau pun kekaguman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyebutkan tentang adanya pengaruh pandangan mata ini melalui lisan Rasul-Nya yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pandangan mata, atau diistilahkan dengan ‘ain, adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang dianggap bagus disertai dengan kedengkian yang muncul dari tabiat yang jelek sehingga mengakibatkan bahaya bagi yang dipandang. (Fathul Bari, 10/210)

Hal ini dijelaskan pula oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan telah jelas adanya secara syar’i maupun indrawi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan hampir-hampir orang-orang kafir itu menggelincirkanmu dengan pandangan mereka.” (Al-Qalam: 51)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu dan selain beliau menafsirkan ayat ini bahwa orang-orang kafir itu hendak menimpakan ‘ain kepadamu dengan pandangan mata mereka.

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keberadaan ‘ain ini, sebagaimana disampaikan oleh putra paman beliau, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“’Ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, tentu akan didahului oleh ‘ain. Apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.” (Shahih, HR. Muslim no. 2188, Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/164-165)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan, hadits ini menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan tidak akan terjadi kecuali sesuai dengan apa yang telah Allah takdirkan serta didahului oleh ilmu Allah tentang kejadian tersebut. Sehingga, tidak akan terjadi bahaya ‘ain ataupun segala sesuatu yang baik maupun yang buruk kecuali dengan takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dari hadits ini pula terdapat penjelasan bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan memiliki kekuatan untuk menimbulkan bahaya. (Syarh Shahih Muslim, 14/174)

‘Ain dapat terjadi dari pandangan yang penuh kekaguman walaupun tidak disertai perasaan dengki (hasad). Demikian pula timbulnya ‘ain itu tidak selalu dari seseorang yang jahat, bahkan bisa jadi dari orang yang menyukainya atau pun orang yang shalih. (Fathul Bari, 10/215)

Bahkan di antara para shahabat yang notabene mereka itu adalah orang-orang yang paling mulia setelah para nabi pun, terjadi ‘ain ini. Kisah tentang hal ini dituturkan oleh Abu Umamah, putra Sahl bin Hunaif radhiallahu ‘anhu:

“‘Amir bin Rabi’ah pernah melewati Sahl bin Hunaif yang sedang mandi, lalu ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat seperti hari ini dan aku tak pernah melihat kulit seperti kulit wanita yang dipingit.’ Tidak berapa lama, Sahl terjatuh. Kemudian dia didatangkan ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang pun mengatakan kepada beliau, ‘(Wahai Rasulullah), segera selamatkan Sahl, ia telah terbaring.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Siapa yang kalian tuduh dalam hal ini?’ Mereka menjawab, ‘Amir bin Rabi’ah.’ Beliau pun berkata, ‘Atas dasar apa salah seorang di antara kalian hendak membunuh saudaranya? Apabila seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dari diri saudaranya, hendaknya ia mendoakan kebaikan padanya.’ Kemudian beliau meminta air dan memerintahkan ‘Amir untuk berwudhu’, maka ‘Amir pun membasuh wajahnya, kedua tangan hingga sikunya, kedua kaki hingga lututnya, serta bagian dalam sarungnya. Lalu beliau memerintahkan untuk menuangkan air itu pada Sahl.” (HR. Ibnu Majah no. 3500, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3908/4020 dan Al-Misykah no. 4562)

Tergambar pula dengan jelas dalam kisah ini, apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada seseorang yang terkena ‘ain. Demikian pula dalam perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“’Ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, tentu akan didahului oleh ‘ain. Apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullahu menerangkan bahwa perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan, apabila seseorang diketahui menimpakan ‘ain, maka ia diminta untuk mandi, dan mandi ini merupakan cara pengobatan ‘ain yang sangat bermanfaat. Dituntunkan pula bila seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan hendaknya segera mendoakan kebaikan padanya, karena doanya itu merupakan ruqyah (pengobatan) baginya. Beliau juga menyatakan bahwa ‘ain yang menimpa seseorang dapat mengakibatkan kematian. (Fathul Bari, 10/215)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk melakukan ruqyah, yaitu pengobatan dengan Al Qur’an dan dzikir-dzikir kepada Allah, terhadap orang yang terkena ‘ain. Beliau memerintahkan hal itu pula kepada istri beliau, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk melakukan ruqyah dari ‘ain.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5738 dan Muslim no. 2195)

Begitu pula yang beliau perintahkan ketika melihat seorang anak perempuan yang terkena ‘ain pada wajahnya. Peristiwa ini dikisahkan oleh istri beliau, Ummu Salamah radhiallahu ‘anha:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang anak perempuan di rumah Ummu Salamah yang pada wajahnya ada kehitam-hitaman. Beliau pun berkata, ‘Ruqyahlah dia, karena dia tertimpa ‘ain’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5739 dan Muslim no. 2197)

Diceritakan pula oleh Jabir bin ‘Abdullah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar anak-anak Ja’far bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu diruqyah:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ bintu ‘Umais, “Mengapa aku lihat anak-anak saudaraku kurus-kurus? Apakah karena kekurangan?”. Asma’ menjawab, “Bukan, akan tetapi mereka cepat terkena ‘ain.” Beliau pun berkata, “Ruqyahlah mereka!”. Asma’ berkata: Maka aku serahkan urusan ini kepada beliau, lalu beliau pun berkata, “Ruqyahlah mereka.” (Shahih, HR. Muslim no. 2198)

Bahkan Jibril ‘alaihissalam pernah meruqyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sakit dengan doa:

“Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitkanmu dan dari setiap jiwa atau pandangan yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (Shahih, HR. Muslim no. 2186)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan dari ‘ain, sebagaimana dikabarkan oleh shahabat yang mulia, Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari jin dan pandangan manusia, hingga turun surat Al-Falaq dan surat An-Naas. Ketika keduanya telah turun, beliau menggunakan keduanya dan meninggalkan yang lainnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2059 dan Ibnu Majah no. 3511, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 2830)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu mengatakan bahwa menjaga diri dari ‘ain boleh dilakukan dan bukan berarti meniadakan tawakkal kepada Allah. Bahkan sikap demikian ini termasuk tawakkal, karena tawakkal adalah bersandar kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala disertai melakukan ‘sebab’ yang diperbolehkan atau diperintahkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memohonkan perlindungan untuk Al-Hasan dan Al-Husain dengan doa:

“Aku memohon perlindungan bagi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan dari setiap pandangan yang jahat.”

Demikian pula yang dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihissalamterhadap kedua putranya, Nabi Ishaq dan Nabi Isma’il ‘alaihimus salam. (Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/165-166)

Betapa ayah dan ibu akan berduka bila pandangan mata itu menimpa buah hatinya. Tentu mereka akan berusaha sekuat tenaga di atas jalan Allah dan Rasul-Nya untuk menghindarkannya, jauh sebelum ‘ain itu datang menerpa. Buah hati tercinta, semogalah selamat selamanya.

Wallahu a’lamu bish shawab. 

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer