Minazh Zhulumaati Ilan Nuur

antik3

28 Jul 09

Makna Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Mimpi Seorang Mukmin Bagian dari Nubuwwah

Filed under: As-Sunnah

Tanya:

 

Apa makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

 

“Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah (kenabian).”

 

Kalau begitu siapakah yang benar mimpinya?

 

Jawab:

 

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menjawab:

 

“Makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

 

adalah apa yang diimpikan seorang mukmin akan terjadi dengan benar, karena mimpi tersebut merupakan permisalan yang dibuat bagi orang yang bermimpi. Terkadang mimpi itu adalah berita tentang sesuatu yang sedang atau akan terjadi. Kemudian sesuatu itu benar terjadi persis seperti yang diimpikan. Dengan demikian, dari sisi ini mimpi diibaratkan seperti nubuwwah dalam kebenaran apa yang ditunjukkannya, walaupun mimpi berbeda dengan nubuwwah. Karena itulah mimpi dikatakan satu dari 46 bagian nubuwwah. Kenapa disebut 46 bagian, karena hal ini termasuk perkara tauqifiyyah1. Tidak ada yang mengetahui hikmahnya sebagaimana halnya bilangan-bilangan rakaat dalam shalat2.

 

Adapun ciri orang yang benar mimpinya adalah seorang mukmin yang jujur, bila memang mimpinya itu mimpi yang baik/bagus. Jika seseorang dikenal jujur ucapannya ketika terjaga, ia memiliki iman dan takwa, maka secara umum mimpinya benar. Karena itulah hadits ini pada sebagian riwayatnya datang dengan menyebutkan adanya syarat, yaitu mimpi yang baik/bagus dari seorang yang shalih. Dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

أَصْدَقُهُمْ رُؤْيًا أَصْدَقُهُمْ حَدِيْثًا

 

“Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur ucapannya.”

 

Akan tetapi perlu diketahui di sini bahwa mimpi yang dilihat seseorang dalam tidurnya itu ada tiga macam:

 

Pertama: Mimpi yang benar lagi baik. Inilah mimpi yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai satu dari 46 bagian kenabian. Secara umum, mimpinya itu tidak terjadi di alam nyata. Namun terkadang pula terjadi persis seperti yang dilihat dalam mimpi. Terkadang terjadi di alam nyata sebagai penafsiran dari apa yang dilihat dalam mimpi. Dalam mimpi ia melihat satu permisalan kemudian ta’bir dari mimpi itu terjadi di alam nyata namun tidak mirip betul. Contohnya seperti mimpi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa waktu sebelum terjadi perang Uhud. Beliau mimpi di pedang beliau ada rekahan/retak dan melihat seekor sapi betina disembelih. Ternyata retak pada pedang beliau tersebut maksudnya adalah paman beliau Hamzah radhiyallahu ‘anhu akan gugur sebagai syahid. Karena kabilah (kerabat/keluarga) seseorang kedudukannya seperti pedangnya dalam pembelaan yang mereka berikan berikut dukungan dan pertolongan mereka terhadap dirinya. Sementara sapi betina yang disembelih maksudnya adalah beberapa sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum akan gugur sebagai syuhada. Karena pada sapi betina ada kebaikan yang banyak, demikian pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah orang-orang yang berilmu, memberi manfaat bagi para hamba dan memiliki amal-amal shalih.

 

Kedua: Mimpi yang dilihat seseorang dalam tidurnya sebagai cermin dari keinginannya atau dari apa yang terjadi pada dirinya dalam hidupnya. Karena kebanyakan manusia mengimpikan dalam tidurnya apa yang menjadi bisikan hatinya atau apa yang memenuhi pikirannya ketika masih terjaga (belum tidur) dan apa yang berlangsung pada dirinya saat terjaga (tidak tidur). Mimpi yang seperti ini tidak ada hukumnya3.

 

Ketiga: Gangguan dari setan yang bermaksud menakut-nakuti seorang manusia, karena setan dapat menggambarkan dalam tidur seseorang perkara yang menakutkannya, baik berkaitan dengan dirinya, harta, keluarga, atau masyarakatnya. Hal ini dikarenakan setan memang gemar membuat sedih kaum mukminin sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ

 

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia4 itu dari setan, dengan tujuan agar orang-orang beriman itu bersedih hati, padahal pembicaraan itu tidaklah memberi mudarat sedikitpun kepada mereka kecuali dengan izin Allah ….” (Al-Mujadalah: 10)

 

Setiap perkara yang dapat menyusahkan seseorang dalam hidupnya dan mengacaukan kebahagiaan hidupnya merupakan target yang dituju oleh setan. Ia sangat bersemangat untuk mewujudkannya, baik orang yang hendak diganggunya itu tengah terjaga atau sedang larut dalam mimpinya. Karena memang setan merupakan musuh sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا

 

“Sesungguhnya setan itu merupakan musuh bagi kalian maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (Fathir: 6)

 

Terhadap bentuk mimpi yang ketiga ini, kita dibimbing oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berlepas diri darinya. Beliau memerintahkan kepada orang yang bermimpi melihat perkara yang dibencinya agar berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari gangguan setan dan dari kejelekan apa yang dilihatnya. Kemudian ia meludah sedikit ke arah kirinya sebanyak tiga kali, mengubah posisi tidurnya dengan membalikkan lambung/rusuknya ke arah lain dan tidak boleh menceritakan mimpi tersebut kepada seorang pun. Bila seseorang telah melakukan bimbingan Rasul yang telah disebutkan ini, niscaya mimpi buruknya itu tidak akan memudaratkannya sedikitpun. Hal ini banyak terjadi di kalangan manusia. Banyak pertanyaan yang datang tentang permasalahan ini, namun obatnya adalah apa yang telah diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullahu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلاَثاً، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ

 

“Bila seseorang dari kalian bermimpi hal yang dibencinya (mimpi buruk), hendaklah meludah ke arah kiri sebanyak tiga kali dan berlindung kepada Allah dari gangguan setan tiga kali, serta memalingkan lambung/rusuknya ke arah yang berbeda dengan yang sebelumnya.”

 

Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu:

 

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُهَا فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَلْيَسْتَعِذْ مِن شَرِّهَا وَلاَ يَذْكُرْهَا لِأَحَدٍ فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ

 

“Bila seseorang dari kalian bermimpi perkara yang dibencinya (mimpi buruk) maka hanyalah mimpi itu dari setan. Karena itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari kejelekan mimpi tersebut dan janganlah ia ceritakan mimpinya kepada seorang pun. Sungguh mimpi itu tidak akan memudaratkannya.”

 

Dalam hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan Al-Imam Muslim rahimahullahu disebutkan bahwa Abu Qatadah berkata:

 

كُنْتُ أَرَى الرُّؤْيَا فَتُمْرِضُنِي حَتَّى سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللهِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ. وَإِنْ رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا، وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرِّهَا وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ…

 

“Aku pernah bermimpi buruk hingga mimpi itu membuatku sakit/lemah. Sampai akhirnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa mimpi yang bagus itu dari Allah, maka bila salah seorang dari kalian bermimpi melihat perkara yang disukainya maka jangan ia ceritakan mimpi tersebut kecuali kepada orang yang dicintainya. Bila yang diimpikan itu perkara yang tidak disukai (mimpi buruk), hendaklah ia meludah sedikit ke kiri tiga kali, berlindung kepada Allah dari kejelekan setan dan dari kejelekan mimpi tersebut, dan jangan ia ceritakan mimpi itu kepada seorang pun. Bila demikian yang dilakukannya niscaya mimpi itu tidak akan memudaratkannya.”

 

Adapun dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا النَّاسِ

 

“Bila seseorang dari kalian melihat perkara yang dibencinya dalam mimpinya maka hendaklah ia bangkit dari tempat tidurnya (untuk berwudhu) lalu mengerjakan shalat dan jangan ia ceritakan mimpinya itu kepada manusia.” (HR. Muslim)

 

Dengan demikian ada beberapa perkara yang diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang bermimpi buruk:

 

1. Meludah sedikit ke arah kirinya tiga kali

 

2. Berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejelekan setan (membaca ta’awudz) sebanyak tiga kali

 

3. Berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejelekan apa yang dilihatnya (dalam mimpi)

 

4. Memalingkan lambung/rusuknya ke arah yang berlainan dari arah semula

 

5. Tidak boleh diceritakannya kepada seorangpun

 

6. Hendaknya ia bangkit dari tempat tidurnya (untuk berwudhu) lalu mengerjakan shalat.

 

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatisy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&lsquo;Utsaimin, 1/327-330)<p>&nbsp;</p></span><span>Footnote:<p>&nbsp;</p></span><span>1 Perkaranya sudah paten, dari sananya demikian. Tidak ada andil bagi akal dalam penetapannya, namun semata-mata dari wahyu, Al-Quran dan As-Sunnah. (pent.)
2 Seperti Zhuhur 4 rakaat, Subuh 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, dan seterusnya. Apa hikmahnya? Jawabannya, tak ada yang tahu. Penetapan bilangan 4, 2, dan 3 ini merupakan perkara tauqifiyyah. Bukan hasil ijtihad akal seorang manusia, namun semata-mata dari wahyu. Sehingga tak boleh seorang pun mengubah jumlah rakaat shalat-shalat tersebut dengan buah pikirannya. (pent.)
3 Karena peristiwa di alam nyata atau pikirannya di alam nyata itulah yang membawanya sampai bermimpi.
4 Berbicara dengan bisik-bisik di hadapan kaum mukminin, sehingga si mukmin menyangka bahwa yang dibicarakan adalah rencana untuk mencelakakannya dan menimpakan kejelekan padanya. Akibatnya ia merasa sedih, takut, dan khawatir. (pent.)

 

Sumber: Majalah Asy-Syari’ah, Vol.III/No.32/1428H/2007, Kategori: Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 89-91. Dicopy dari: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=504

Sebab-Sebab Ampunan di Bulan Ramadhan

Filed under: An-nashiihah

Dalam bulan Ramadhan banyak sekali sebab-sebab turunnya ampunan. Di antara sebab-sebab itu adalah :
1.      Melakukan puasa di bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu." (Hadits Muttafaq ‘Alaih)
 
2.      Melakukan shalat tarawih dan tahajiud di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi ruasallam bersabda : "Barang siapa melakukan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu." (Hadits Muttafaq ‘Alaih)
3.      Melakukan shalat dan ibadah lain di malam Lailatul Qadar. Yaitu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia adalah malam yang penuh berkah, yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’anul Karim. Dan pada malam itu pula dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa melakukan shalat di malam Lailatul Qadar kavena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu. (Hadits Muttafaq ‘Alaih)
4.      Memberi ifthar (makanan untuk berbuka) kepada orang yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang di dalamnya (bulan Ramadhan) memberi ifthar kepada orang berpuasa, niscaya hal itu menjadi sebab) ampunan dari dosa~osanya, dan pembebasan dirinya dari api Neraka. " (HR. Ibnu Khuzaimah (dan ia menshahihkan hadits ini), Al-Baihaqi dan lainnya).
5.      Beristighfar : Meminta ampunan serta berdo’a ketika dalam keadaan puasa, berbuka dan ketika makan sahur. Do’a orang puasa adalah mustajab (dikabulkan), baik ketika dalam keadaan puasa ataupun ketika berbuka Allah memerintahkan agar kita berdo’a dan Dia menjamin mengabulkannya.
Allah berfirman : "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya untukmu." (Ghaafar: 60), Dan dalam sebuah hadits disebutkan : "Ada tiga macam orang yang tidak ditolak do’anya. Di antaranya disebutkan,"orang yang berpuasa hingga ia berbuka" (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasaa’i dan Ibnu Majah). (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih mereka masing-masing, dan At-Tirmidzi mengatakannya hadits shahih hasan.) Karena itu, hendaknya setiap muslim memperbanyak, dzikir, do’a dan istighfar di setiap waktu, terutama pada bulan Ramadhan, ketika sedang berpuasa, berbuka dan ketika sahur, di saat turunnya Tuhan di akhir malam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : "Tuhan kami Yang Mahasuci dan Maha tinggi turun pada setiap malam ke langit dunia, (yaitu) ketika masih berlangsung sepertiga malam yang akhir seraya berfirman "Barangsiapa berdo’a kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuknya, barangsiapa memohon kepada-Ku, niscaya Aku memberinya dan barangsiapa memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya." (HR.Muslim).
6.      Di antara sebab-sebab ampunan yaitu istighfar (permohonan ampun) para malaikat untuk orang-orang berpuasa, sampai mereka berbuka. Demikian seperti disebutkan dalam hadits Abu Hurairah di muka, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Jika sebab-sebab ampunan di bulan Ramadhan demikian banyak, maka orang yang tidak mendapatkan ampunan di dalamnya adalah orang yang memiliki seburuk-buruk nasib. Kapan lagi ia mendapatkan ampunan jika ia tidak diampuni pada bulan ini? Kapan dikabulkannya (permohonan) orang yang ditolak pada saat Lailatul Qadar? Kapan baiknya orang yang tidak menjadi baik pada bulan Ramadhan ?
Dahulu, ketika datang bulan Ramadhan, umat Islam senantiasa berdo’a :
"Ya Allah, bulan Ramadhan telah menaungi kami dan telah hadir maka serahkanlah ia kepada kami dan serahkanlah kami kepadanya Karuniailah kami kemampuan untuk berpuasa dan shalat di dalamnya, karuniailah kami di dalamnya kesungguhan, semangat, kekuatan dan sikap rajin. Lain lindungilah kami didalamnya dari berbagal fitnah ’
Mereka berdo’a kepada Allah selama enam bulan agar bisa mendapatkan Ramadhan, dan Selama enam bulan (berikutnya) mereka berdo’a agar puasanya diterima. Di antara, do’a mereka itu adalah :
"Ya Allah serahkanlah aku kepada Ramadhan, dan serahkan Ramadhan kepadaku, dan Engkau menerimanya daripadaku dengan rela." (Lihat Lathaa’iful Ma’aarif, oleh Ibnu Rajab, him. 196-203.)
 

[Disalin dari kitab TUNTUNAN IBADAH DI BULAN RAMADHAN oleh Syaikh Muhammad Ibn Jaarullah Al Jaarullah, Compiled ebook by Akhukum Fillah La Adri At Tilmidz]

Kamus Tafsir Mimpi

Filed under: As-Sunnah

Muqaddimah

Sebetulnya, seringnya seorang muslim melihat mimpi yang benar merupakan tanda-tanda semakin dekatnya kiamat kecil yang setiap orang di anatara kita akan menghadapinya. Sebagaimana hal ini diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhori dan Muslim dari hadits Abu HUrairah radhiyallahu anhu dari Nabi, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila zaman mulai berdekatan (waktu terasa singkat), hamper-hampir mimpi seorang muslim itu tidak dusta.”

Barangkali himahnya adalah bahwa seorang mukmin di akhir zaman nanti akan menjadi orang yang terasing, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim juga:

“Sesungguhnya Islam itu datang pertama kali dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya.” (HR Muslim dari Ibnu ‘Umar)

Sehingga sangat sedikit yang menghibur seorang mukmin dan yang menolongnya untuk tetap taat di saat itu. Oleh karena itu dia dimuliakan dengan mimpi yang benar, sebagai berita gembira dan pemantapan kedudukannya di atas shirathal mustaqim (jalan yang lurus).

Adapun mereka yang mena’birkan mimpi dan ahlam ini sangat sedikit pula jumlahnya di satu tempat. Terutama yang memang dianugerahi Allah ilmu, hikmah dan bashirah (pandangan) yang tajam dalam mena’birkannya. Dan buku-buku tentang tafsir mimpi ini penuh berisi hal-hal yang sangat bermanfaat. Namun sangat sedikit orang yang tidak mampu mengambil faedah dan menelaahnya dengan baik. Dari sinilah kami haturkan barisan pembahasan ini dengan segenap kerendahan hati, sebagai pembuka pintu atau jalan bagi para pembaca menuju penafsiran mimpi ini, serta bagaimana etika dan tata caranya. Muda-mudahan buku ini menjadi pembimbing kepada penafsiran mimpi yang mendekati kebenaran dan paling jelas dalam menerangkannya, yang disadur sebagian besarnya dari Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kedudukan Mimpi

Kadang ada yang bertanya: “Apakah mimpi itu dibutuhkan dan apa sisi kepentingannya, sedang semua urusan ini adalah dengan qadha dan qadar Allah?”

Kita katakan bahwa ayat-ayat dalam Kitab Allah Rabb smesta alam, juga dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerangkan tentang mimpi ini dan anjuran untuk isti’adza (berlindung) darinya.

Hal ini menunjukkan betapa besar dan mulianya perihal mimpi ini. betapa banyak mimpi yang baik menjadi sebab hidayah bagi orang yang durhaka. dan berapa banyak mimpi ini menjadi sebab terjaganya seseorang dari jatuh ke dalam hal-hal yang membinasakan. dan kalau kita ingin menghitung sisi kebaikan yang menjelaskan keutamaan mimpi serta kepentingannya, tentulah kita temukan kebaikan yang sangat banyak. perhatikanlah sebagian yang telah dipaparkan oleh Al-Qur’an:

“Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. maka pikirkanlah apa pendapatmu?’” (Ash-Shaaffaat: 102)

mimpi Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam mempunyai kedudukan sebagai syariat bagi umat ini, sehingga Allah syariatkan bagi kita ibadah kurban (adha).

perhatikan mimpi NAbi Yusuf ‘Alaihis Salam, niscaya akan kita dapati suatu hal yang menakjubkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ketika menerangkan keutamaan mempelajari ta’wilnya:

“Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bor mimpi-mimpi.” (Yusuf: 6)

Jadi, ilmu tentang ta’wilnya adalah ilmu yang terpuji menurut syari’at. Dan karena ilmu tentang mimpi adalah terpuji, tentunya mimpi (ru’ya) itu sendiri adalah suatu hal yang baik.

Perhatikan pula surat Al-Anfal yang bercerita tentang Perang Badr, ketika Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman kepada NAbi-Nya:

“(Yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepadamu (berjumlah) banyak, tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah MAha Mengetahui segala isi hati.” (Al-Anfal: 43)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperlihatkan keada Nabi-Nya bahwasanya orang-orang kafir jumlahnya sedikit. Padahal kenyataannya berbeda, karena jumlah mereka 900 orang, lebih banyak dari kaum muslimin yang berjumlah 300 orang. namun demikian, Allah memperlihatkan kepada Nabi-Nya sedikitnya jumlah kaum musyrikin untuk menumbuhkan semangat dan keberanian kaum mukminin untuk memerangi mereka. oleh karena itu pula selanjutnya Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di anatara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh (Al-Anfal: 65)

dan perhatikan pula mimpi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada masa penaklukan kota Makkah, yang beliau lihat sebelum membebaskannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki masjidil haram, insyaAllah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” (Al-Fath: 27)

Maka mimpi ini merupakan penenang bagi beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shabatnya dengan akan bebasnya kota Makkah. dan kenyatannya memang sebagaimana yang dilihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (dalam mimpinya).

Kalau kita berbicara tentang mimpi para Nabi Allah dan Rasul-Nya tentulah sangat banyak kita dapatkan. tapi kami ingin menggaris bawahi satu masalah penting yaitu bahwa mimpi para Nabi itu tidak sama dengan mimpi manusia lainnya, karena mimpi mereka adalah wahyu dari Allah swt.

Sedangkan pentingnya mimpi pada sebagian individu, mungkin sebagai berita gembira dan peringatan. adapaun berita gembira (busyra) bagi yang melihatnya, adalah hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. kalau dia seorang yang taat misalnya, maka dia akan tetap teguh (konsisten) di atas ketaatan itu, bahkan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjaganya. dan kalau dia seorang ahli maksiat, maka mimpi ini sebagai ancaman yang menakut-nakutinya dari siksa dan murka Allah serta peringatan dari-Nya agar tidak terus-menerus tenggelam dalam kemaksiatan itu. dan kalaupun tidak ada hal lain dalam mimpi itu selain hal ini, maka itupun cukup sebagai keutamaan dan penghargaan bagi mimpi ini.

Sering kita dengar orang-orang yang bermaksiat; tidak mau shalat atau bermuamalah dengan cara riba (rente), atau mereka sediakan kelapangan mereka untuk para ahli maksiat dan kemungkaran ini. dan sering pula kita dengar mimpi ini menjadi sebab yang menggugah mereka untuk beribah menjadi orang yang istiqamah (konsisten) dalam ketaatan kepada Allah serta berpaling menjauhi perbuatan yang selama ini mereka lakukan.

Kesimpulannya, di dalam mimpi itu terdapat manfaat yang hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladan merupakan sebagian nikmat Allah Subhanahu wa Ta’alakepada para hamba-Nya; berita gembira bagi seorang mukmin, penggugah bagi orang-orang yang lalai, dan peringatan bagi orang-orang yang berpaling serta hujjah terhadap para penentang.

Penulis kitab At-Tamhid mengatakan:

“Ilmu tentang ta’wil mimpi termasuk ilmu para Nabi dan orang-orang yang beriman. Cukuplah bagimu apa yang telah diternagkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam dan atsar yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta ijma’ para imam pembawa petunjuk dari kalangan shahabat dan tabi’in serta para ulama kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah sesudah mereka, untuk mengimaninya dan meyakini bahwasanya mimpi itu adalah hikmah yang sempurna dan nikmat yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang yang dikehendaki-Nya, sekaligus sebagai berita gembira yang tersisa setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 

Pembagian Golongan Manusia Menurut Mimpi

Menurut orang yang melihatnya (yang bermimpi) terbagi menjadi beberapa bagian. Dan ini sesuai dengan jujur tidaknya orang yang bermimpi. Berdasarkan keadaan orang yang bermimpi, ahli ilmu membagi keadaan manusia sehubungan dengan mimpi ini menjadi lima bagian, yaitu:

1.       Para Nabi

2.       Shalihuh (orang-orang shalih)

3.       MAsturun (yang tidak diketahui keadaannya)

4.       Fasaqah (orang-orang fasiq)

5.       Kuffar (orang-orang kafir)

 

1.       Mimpi Para Nabi

Mereka adalah manusia-manusia yang paling jujur (benar) mimpinya, dan ini tidak diragukan lagi. KArena mereka adalah orang-orang yang paling benar (jujur) ucapan dan perbuatannya. Sebab itulah mimpi NAbi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagaikan cahaya subuh (pagi) yang terang, karena mimpi beliau adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau.

 

2.       Mimpi orang-orang Shalih

Mereka berada pada urutan kedua setelah para Nabi dan Rasul Allah. Yang Dominan pada mimpi mereka adalah kebenaran. Namun diantaranya ada yang perlu dita’birkan dan ada pula yang tidak perlu (karena mimpi itu) sudah menunjukka suatu perkara yang sangat jelas.

Rasullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya.”

Dan beliau juga bersabda:

“Mimpi yang baik dari orang yang shalih adalah satu dari 46 bagian kenabian (nubuwwa). (HR Al-Imam Bukhrori dan  Muslim)

 

3.       Mimpi Para Masturin (Orang yang tidak dikenal keadaannya)

Yaitu orang-orang yang tidak diketahui apakah dia melakukan shalat, berzakat, haji dan ketaatan lainnya, mereka kurang dalam sebagian amalan dan mempunyai dosa yang lebih rendah dari syirik. Mereka ini juga mempunyai mimpi, namun kadang dari Allah dan kadang ari syaithan.

 

4.       Mimpi Orang-orang Fasik

Mimpi mereka sangat sedikit benarnya, yang paling dominan adalah mimpi-mimpi kosong yang merupakan permainan syaithan.

 

5.       Mimpi orang-orang Kafir

Mimpi mereka sangat jarang benarnya. Hal ini dikarenakan kekejian dan kekafiran mereka kepada Allah dan RAsul-Nya. Dan pada umumnya mimpi mereka adalah dari syaithan. Akan tetapi kadang mereka melihat mimpi yang benar. Namun demikian masih dipertanyakan. apakah mimpi tersebut berasal dari wahyu atau kita katakana satu dari 46 bagian kenabian?

Al-Imam Al-Qurthubi menjawab hal ini, beliau mengatakan:

“Jika dikatakan bahwa mimpi yang benar itu adalah satu bagian dari kenabian, bagaimana mungkin orang kafir dan pendusta serta kacau keadaannya memperoleh atau bisa mendapatkannya?

Jawabnya ialah bahwasanya orang yang kafir, fajir (jahat), fasik dan pendusta itu, meskipun suatu ketika mimpi mereka benar, itu bukanlah dari wahyu dan bahkan bukan juga dari nubuwwah. Karena tidaklah semua yang benar dalam berita tentang perkara ghaib, lantas beritanya merupakan nubuwwah. Dan sudah dijelaskan dalm surat Al-An’am bahwa seorang dukun atau yang lainnya (paranormal dan sejenisnya) kadang-kadang menyampaikan suatu berita dengan pernyataan yang benar (haq) lalu dibernarkan (dipercaya). Akan tetapi hal itu sangat jarang dan sedkit sekali. Demikian pula mimpi mereka ini. [Tafsir Al-Qurthubi (9/124)]

 

Tanda-Tanda Untuk Mengenal Sebuah Mimpi

Yang pertama: Tanda-tanda Mimpi yang Benar

1.       Bersih dari mimpi kosong, baying-bayang yang menakutkan dan meresahkan.

2.       Dapat dipahami ketika terjaga. Yang bermimpi tidak melihat dalam tidurnya sesuatu yang bertolak belakang, seperti mimpi melihat orang berdiri dalam keadaan duduk.

3.       Tidur dalam keadaan pikirannya jernih, tidak disibukkan oleh satu persoalan pun. Karena pada umumnya, mimpi orang yang seperti ini adalah karena bisikan jiwanya (angan-angannya) sebelum tidur. Misalnya dia dalam keadaan haus lalu tertidur dan dalam tidurnya mimpi dia sedang minum. Atau lapar lalu mimpi sedang makan dan sebagainya.

4.       Mimpi tersebut dapat dita’wil dan sesuai dengan yang ada di Lauh MAhfuzh. Kalau mimpi itu kadang terlihat begini atau kadang begitu, maka itu tidaklah dinamakan mimpi yang baik dan benar. Karena mimpi yang benar itu harus tersusun rapi yang sesuai dan memungkinkan untuk dita’wilkan (ditafsirkan).

 

Yang Kedua: Mimpi yang Diperbuat oleh Syaithan

Mimpi ini sangat berbeda dengan yang telah kami paparkan. Sehingga kalau mimpi ini meliputi berbagai perkara yang mendatangkan duka cinta, keresahan, ketakutan dan sebagainya, maka tidak perlu diperhatikan karena itu adalah perbuatan syaithan.

Al-Allamah ‘Abdurrahman bin NAshir As-Sa’di rahimahullah mengatakan:

“Perbedaan antara ahkam yang berupa mimpi-mimpi kosong dan tidak bisa dita’wil, seperti orang yang bermimpi dalam keadaan dia sibuk berfikir dan berangan-angan terhadap suatu persoalan. Maka kebanyakan yang dilihatnya dalam tidurnya adalah sejenis dengan apa yang dipikirkannya ketika dia dalam keadaan jaga. Jenis ini biasanya mimpi kosong yang tidak ada ta’wilnya.

Demikian juga bentuk lain yang dilemparkan syaithan kepada ruh orang yang tidur, berupa mimpi dusta dan makna-makna yang kacau. Ini juga mimpi yang tidak ada ta’wilnya. Dan tidak perlu menyibukkan pikirannya dengan hal ini. Bahkan sebaliknya dia membiarkannya begitu saja.

Adapun mimpi yang benar, maka itu adalah ilham yang diberikan Allah kepada ruh ketika dia lepas dari jasad pada waktu tidur. Atau tamsil yang dibuat oleh malaikat bagi seorang manusia agar dia memahami apa yang sesuai dengan tamsil itu. YAkni, kadang dia melihat sesuatu sesuai hakekatnya, dan ta’birnya adalah apa yang dilihatnya dalam tidurnya. (Al-Majmu’atul Kamilah li Mu’allafat Ibnu Sa’di, (1/108)

Pedoman Menafsirkan Mimpi

Sangat disayangkan dalam masa-masa terakhir ini banyak orang yang berusaha mena’birkan mimpi. Yang kami maksud tentunya bukan para ahli dalam masalah ta’bir dan ta’wil, tetapi mereka yang terlalu berani mena’birkannya tanpa memperhatikan dan memahami permasalahannya. Dan mereka menyangka bahwa masalah ini adalah perkara yang gampang.

Mereka lupa bahwa selama mimpi ini bagian dari nubuwwah (kenabian), maka tidak boleh terllau berani menta’wilnya kecuali dengan dasar ilmu dan kekuatan pemahaman. Alangkah banyak kami dengar orang-orang yang mena’birkan mimpi ini tidak benar, akhirnya merusak urusan dunia orang yang bermimpi. Akibatnya dia memutuskan hubungan silaturrahmi, yang sebetulnya diperintahkan untuk menyatukannya. Semua itu disebabkan ta’bir yang salah.

Maka ketika mimpi ini ternyata mengambil bagian terbesar dalam kehidupan sebagian manusia, jelas sudah seharusnya diberlakukan pedoman untuk mena’birkan mimpi tersebut. Dan sebelum kita menerangkan patokan-patokan atau kaidah dalam mena’birkan mimpi ini, kita Tanya pada diri kita masing-masing: Mengapa ada sebagian orang yang berani mena’birkannya tanpa ilmu? Ini adalah pertanyaan yang mesti dijawab karena melihat bahayanya perkara ini. Apalagi sudah banyak yang terjerumus ke dalamnya.

Adapun sebab-sebabnya:

1.       Lemahnya sisi keimanan

Keimanan adalah penggerak dan pelindung hati sesudah adanya taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’alaagar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak sepantasnya. seandainya semua pelaku maksiat ingat bahwa imannya tidak mengizinkannya untuk berbicara atas nama Allah tanpa ilmu, tidak mungkin dia akan berani mencoba-coba melakukannya. Bahkan tentu dia akan lebih memilih apa yang pantas baginya dalam urusan dien dan dunianya.

2.       Lalai dari kehidupan akhirat

Sesungguhnya ahl ta’wil yang kekanakkan, yakni mereka yang tidak mempedulikan dan tidak mempertimbangkan permasalahan ini dengan kadar yang sesuai, mereka pada hakekatnya adalah orang-orang yang lalai dari kampong akhirat. Lalai bahwa mereka akan berdiri di hadapan Allah swt.

Boleh jadi mimpi itu menjadi dakwah yang mengajaknya untuk konsisten (istiqamah) atau agar yang melihatnya melepaskan diri dari berbagai kemungkaran yang dijalaninya. Sehingga jika orang yang mena’birkannya ternyata salah, tidaklah ada jalan lain kecuali yang bermimpi tetap dalam keadaannya. Selanjutnya dia tidak mungkin konsisten dalam ketaatan dan tidak dapat melepaskan diri dari kemaksiatan. Dari sinilah seorang pena’bir menjadi sebab kebinasaan dan tersiksanya dia pada hari kiamat. Dari sini pula, seorang pena’bir akan ditanya tentang ta’birnya yang salah selama dia tahu bahwa dia bukan ahlinya.

3.       Cinta kemasyhuran

Ini adalah kerusakan besar yang menimpa sebagian pena’bir di zaman kita. Hal ini adalah karena banyaknya mimpi di zaman ini.

4.       Kurangnya ilmu

Yang kami maksud dengan ilmu adalah ilmu tentang syariat yang mengantarkan seseorang untuk mengenal RAbbnya (Allah swt) dan mengenal syariat-Nya. Maka jika mereka mengetahui hakekat Zat yang diibadahi (Yang Disembah) dan hakekat syariat-Nya tentulah tidak akan berani berbuat demikian (mena’birkan tanpa ilmu)

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyao pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra’: 36)

Ringkasnya, saya mengingatkan para saudaraku tentang ucapan Imam MAlik ketika ditanya: “Apakah setiap orang boleh mena’birkan mimpi? Dan apakah dengan nubuwwah dia bermain-main?”

Beliau mengatakan: “Tidak ada yang mena’birkan kecuali orang yang memang menguasai ilmunya. Maka kalau dia melihat kebaikan dia ceritakan. Adapun kalau dia melihat sesuatu yang yang dibenci maka ucapkanlah kebaikan atau diam.” Dikatakan kepada beliau: “apakah boleh mena’birkan suatu mimpi dengan kebaikan sedang menurutnya hal itu merupakan sesuatu yang dibenci, hanya karena ucapan seseorang bahwa mimpi itu adalah berdasarkan bagaimana kamu ta’wilkan?”

Kata beliau: “Tidak boleh. Mimpi itu adalah suatu bagian dari kenabian, maka janganlah bermain-main dengan masalah nubuwwah!” [Tafsir Al-Qurthubi (9/126), At-Tamhid (1/288)]

 

Pedoman Mena’birkan Mimpi

1.       Apabila dia ingin mimpinya benar, hendaklah dia senantiasa jujur, benar akhlaknya, jauh dari dusta, ghibah dan namimah (menukil berita dari satu pihak dan membawanya kepada pihak lain untuk menimbulkan permusuhan dan perselisihan. Wallahu A’lam-pent)

2.       Dianjurkan (sunnah) untuk berwudlu’ sebelum tidur agar mimpinya benar.

3.       Senantiasa menjaga ‘iffah (kehormatan diri), karena orang yang tidak menjaga ‘iffah akan melihat mimpi dan tidak mengingatnya sedikutpun karena lemahnya niat dan banyaknya dosa serta kemaksiatannya.

4.       Tidak mencerotakannya kepada otang jahil (tidak mengerti syariat Islam) atau musuh. Karena mimpi itu berada di kaki seekor burung, selama tidak diceritakan. Kalau sudah diceritakan dia akan hinggap (terjadi).

5.       Tidak menceritakannya kepada seorang pena’bir, sementara di negerinya atau di kampungnya ada orang yang lebih pandai darinya dalam mena’bir.

6.       Hendaklah dia menjauhi dusta dalam masalah mimpi ini, karena NAbi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Siapa yang berdusta dalam urusan mimpinya, niscaya dibebankan kepadanya pada hari kiamat untuk menyatukan dua biji gandum, dan siapa yang berdusta atas sumpahnya, tidak akan mendapatkan bau surga. Dan sesungguhnya sebesa-besar kedustaan adalah orang yang berdusta atas kedua matanya, dia katakan dia melihat sesuatu padahal dia tidak melihatnya.”

 

Beberapa Pengaruh Negatif Pada Sebagian Pena’bir yang Bukan Ahli

1.       Sebagian orang menjadi lemah rasa tawakkalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena terlalu berpegang kepada mimpi mereka.

2.       Termasuk pengaruh negatif juga adalah adanya rasa takut dan gelisah yang lebih dominan ketika mengetahui ta’birnya. Hal ini ketika mimpi itu dita]birkan oleh orang yang cerdik, ternyata dia ditimpa rasa takut dan cemas karena ta’bir ini. Seandainya pena’bir diam lalu dia mengambil jalan selamatnya untuknya dan untuk orang yang bermimpi tentulah lebih baik dan lebih selamat.

3.       Kecenderungan bersandar kepada mimpi tersebut sehingga mendorong pemiliknya untuk malas dan bebal, pada kebanyakan orang.

4.       Termasuk pengarug negative bagi para pena’bir yang bukan ahlinya ialah kezhaliman terhadap orang lain dan melampau batas. Sebagian orang melihat satu mimpi kemudian ditafsirkan secara keliru, dan dia mempunyai musuh, bisa jadi mimpi itu diceritakan kepadanya atau disebutkan keadaannya. Selanjutkan akan muncul kezhaliman terhadap orang lain yang mengakibatkan permusuhan sehingga menjurus kepada pemukulan, caci maki atau mengungkapkan sesuatu yang tidak ada pada mereka dan sejenisnya.

5.       Mengakibatkan runtuhnya bangunan. Ada sebagian orang yang bermimpi, lalu menafsirkannya, bahwasanya istrinya atau salah satu kerabatnya mengatakan tentang dia begini, begitu. Atau bahwasanya istrinya mengalami hal ini atau itu, yang berupa perkara-perkara yang tidak disukainya. Berikutnya, terjadilah berbagai hal yang menyebabkan hancurnya rumah tangga atau putusnya silaturrahmi.

6.       Adanya sikap menggampangkan dari kebanyakan wanita dalam berbicara tanoa adanya kepentingan. Hal ini termasuk factor yu’ani minhu sebagian besar, dan ini tidak ragu lagi terjadi atau muncul dari orang-orang yang jahil tentang hokum mimpi dan ta’birnya.

7.       Sebagian orang kadang ditimpa suatu persoalan, allau melihat mimpi dan ditafsirkan oleh seseorang yang bukan ahlinya. Kemudia dia berkata bahwa ada orang yang mengirimkan sihir,n sejenisnsya kepadamu. Ini adalah bahaya besar, Karena akan menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian di antara kerabat dan kabilah, yang mengakibtakna munculnya hal-hal yang tidak sepantasnya disebutkan. Inipun jelas berasal dari kebodohan para pena’bir terhadap mimpi.

 

{Dirangkum dari Kamus Tafsir Mimpi karya Asy-Syaikh Khalid Al-Anbari dan Pedoman Mena’birkan Mimpi” karya DR Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar, Penerbit Pustaka Ar-Rayyan dengan judul sampul KAmus TAfsir Mimpi}     






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer