Minazh Zhulumaati Ilan Nuur

antik3

31 Jul 09

Bagaimana Tata Cara Mandi Setelah Haid ?

Filed under: fiqh_nisaa

Oleh : Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

 

Kewajiban wanita setelah selesai masa haidnya adalah mandi. Itu dilakukannya dengan menggunakan air yang benar-benar suci ke seluruh badannya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :

 

“Apabila kamu sedang mengalami haid, maka tinggalkanlah shalat dan apabila telah berhenti, maka mandi dan shalatlah. ” (H.R. Al-Bukhari)

 

Cara Mandi Setelah Haid

 

1. Berniatlah untuk menghilangkan hadats atau bersuci untuk melaksanakan shalat dan sejenisnya.

 

2. Mengucapkan : Bismillahirrahmanirrahiim (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

 

3. Meratakan air ke seluruh badan.

 

4. Menyela-nyela dasar rambut kepala dan apabila rambutnya lebat cukup menyela-nyelanya dengan air. Alangkah baiknya ketika menyela-nyela rambut tersebut dicampur dengan sabun, shampoo atau alat pembersih lainnya.

 

5. Setelah selesai mandi, disunnahkan mengoleskan kapas yang telah diberi minyak wangi atau sejenis wangi-wangian lainnya ke dalam farji (vagina). Sebagaimana perintah Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam kepada Asma’ tentang hal ini (H.R. Muslim).

 

Allahu ‘alam bishawab.

 

Referensi:
Dinukil untuk http://najiyah1400h.wordpress.com., dari :
Buku : Panduan Fiqih Praktis bagi wanita, penulis : Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan; penerjemah : Muhtadin Abrori, Editor : Ayip Syafrudin, Abu Ziyad Abdullah Majid ; Penerbit : Pustaka Sumayyah, Cet. Ke-3. Hal. : 33-34.

Menuntut Ilmu

Filed under: Hikmah


Penulis/Sumber : Redaksi Asy Syariah

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
‘Apabila seseorang menuntut ilmu, maka hal itu akan terlihat pada khusyu’nya, pandangannya, lisannya, tangannya, shalatnya, dan zuhudnya.
Apabila seseorang meraih salah satu bab ilmu lalu dia amalkan, hal itu lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya.’

Sahnun bin Sa’id rahimahullah berkata:
‘Orang yang paling berani berfatwa adalah yang paling sedikit ilmunya. (Yakni) seseorang memiliki ilmu satu bab saja, lalu dia menyangka bahwa seluruh kebenaran ada pada dirinya.’

Az-Zuhri rahimahullah berkata kepada Yunus bin Yazid:
‘Janganlah engkau merasa sombong terhadap ilmu, karena ilmu adalah lembah-lembah. Yang manapun engkau tempuh, dia akan mengalahkanmu sebelum engkau mencapainya. Akan tetapi ambillah ilmu itu bersamaan dengan perjalanan siang dan malam. Dan janganlah engkau mengambil ilmu sekaligus, karena barangsiapa yang mengambil ilmu sekaligus, akan hilang pula sekaligus. Akan tetapi ambillah ilmu sedikit demi sedikit, bersamaan dengan perjalanan siang dan malam.’

(Diambil dari ‘Awa`iq Ath-Thalab, hal. 54-55, karya Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas)

Sumber: www.asysyariah.com/2009/home

Beragam Tujuan dalam Menuntut Ilmu

Filed under: Hikmah

Penulis/Sumber : Al-Ustadz Zainul Arifin

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
‘Janganlah kalian mempelajari ilmu karena tiga hal: (1) dalam rangka debat kusir dengan orang-orang bodoh, (2) untuk mendebat para ulama, atau (3) memalingkan wajah-wajah manusia ke arah kalian. Carilah apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ucapan dan perbuatan kalian. Karena, sesungguhnya itulah yang kekal abadi, sedangkan yang selain itu akan hilang dan pergi.’ (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/45)

Ishaq ibnu Ath-Thiba’ rahimahullahu berkata: Aku mendengar Hammad bin Salamah rahimahullahu berkata: ‘Barangsiapa mencari (ilmu, pen.) hadits untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat makar atasnya.’

Waki’ rahimahullahu berkata:
‘Tidaklah kita hidup melainkan dalam suatu tutupan. Andaikata tutupan tersebut disingkap, niscaya akan memperlihatkan suatu perkara yang besar, yakni kejujuran niat.’

AlHafizh Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata:
‘Menuntut ilmu yang merupakan perkara yang wajib dan sunnah yang sangat ditekankan, namun terkadang menjadi sesuatu yang tercela pada sebagian orang. Seperti halnya seseorang yang menimba ilmu agar dapat berjalan bersama (disetarakan, pen.) dengan para ulama, atau supaya dapat mendebat kusir orangorang yang bodoh, atau untuk memalingkan mata manusia ke arahnya, atau supaya diagungkan dan dikedepankan, atau dalam rangka meraih dunia, harta, kedudukan dan jabatan yang tinggi. Ini semua merupakan salah satu dari tiga golongan manusia yang api neraka dinyalakan (sebagai balasan, pen.) bagi mereka.’
(AnNubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 10-11)

HR. Muslim no.1907 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Sumber: www.asysyariah.com/2009/home

30 Jul 09

NASEHAT DAN WEJANGAN ASY-SYAIKH RABI’ AL-MADKHALI

Filed under: An-nashiihah

Disampaikan di tengah-tengah Acara Dauroh Ilmiah Asatidzah ke-5

Di Ma’had Al-Anshar Sleman – Yogyakarta
4 Sya’ban 1430 H – 25 Juli 2009 M
Alhamdulillah, dengan kemudahan dan taufiq dari Allah ‘Azza wa Jalla tadi malam sekitar pukul 21.00 WIB para masyaikh dan asatidzah berhasil melakukan penelponan kepada Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Walid Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah wa ra’ahu
Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan nasehat dan wejangan singkat namun sangat besar dan berharga. Setelah hamdalah dan shalawat, beliau menyampaikan nasehat dan wejangannya [1] :
1.     Taqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla
2.     Ikhlas karena Allah dalam semua ucapan dan amalan
3.     I’thisham (berpegang) kepada Al-Quran dan As-Sunnah<em> </em><br />4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <em>Ittiba&rsquo; </em>Sunnah Rasulullah <em>Shallahu &lsquo;alaihi wa Sallam</em><em> </em>dan petunjuk para <em>al-khulafa ar-rasyidin
5.     berjalan di atas manhaj as-salaf ash-shalih dalam semua urusan agama, baik aqidah, ibadah, akhlak
6.     Menjaga ukhuwwah antar mereka, ta’awun di atas al-birr wa at-taqwa
7.     Menjauhi perpecahan dan segala sebab yang bisa mengantarkan kepada perpecahan. Bersaudara karena Allah
8.     Serius terhadap ilmu yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah di atas manhaj salaf. Kemudian berdakwah kepada umat menuju kepada manhaj tersebut, dengan hikmah dan mau’izhah hasanah berdasarkan metode Al-Qur`an dan As-Sunnah, dan metode pada du’at pembawa kebaikan di segenap tempat.
9.     Saya peringatkan mereka dari perselisihan. Karena perselisihan bahaya yang sangat besar, bisa menghancurkan dakwah salafiyyah. Allah berfirman :
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين [الأنفال/46]
dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah.
Akan menyebabkan dakwah kalian menjadi lemah. Ini merupakan fakta yang nyata, bahwa perselisihan-perselisihan yang terjadi menyebabkan dakwah menjadi lemah, mengacaukannya, dan mengacaukan para da’inya.
Maka hendaknya menjauh dari semua yang bisa mengacaukan dakwah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
« إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِى الأَمْرِ كُلِّهِ »
Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua urusan
Maka wajib atas kalian untuk bersikap lembut.
Barangsiapa yang terjadi darinya kesalahan, maka hendaknya ia dinasehat dengan hikmah dan kelembutan. Bukan dengan cara tasyhir (mengumumkan kesalahannya), dll
Lakukan tanashuh (saling menasehati) di atas ukhuwwah dan mahabbah karena Allah.
10. Wajib atas kalian untuk bersaudara karena Allah dan saling mencinta karena Allah. Karena sikap tersebut merupakan kedudukan yang sangat tinggi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Kalian tidak akan masuk jannah sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan pada suatu amalan apabila kalian mau menerapkannya niscaya kalian akan saling mencinta? Tebarkanlah salam antar kalian.”
Maka tebarkanlah salam antar kalian. Tebarkanlah segala yang bisa menumbuhkan ukhuwwah antar kalian.
Kita memohon kepada Allah agar menyatukan hati kita. Menghindarkan kita dari segala kejelekan dan keburukan. Semoga Allah menyatukan kalian di atas al-haq.
Alhamdulillah, pada Daurah Ilmiah di Bantul, Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari mensyarh (menjelaskan) nasehat tersebut dengan penjelasan yang indah
CopyPaste: AbuZaid

Sumber: Milis Nashihah

Rekap Jadwal Masyaikh di Surabaya, Bandung dan Jakarta

Filed under: Uncategorized

Berikut adalah jadwal kajian bersama para masyaikh di Surabaya , Bandung , dan Jakarta (Semua disajikan dalam bahasa Arab dan akan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

 

 

 

1.      SURABAYA

 

Pemateri: Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri

 

 

 

Tempat:

 

Masjid Wal Ashri (Komplek Gedung Pertamina )
Jl.Jagir Wonokromo 88 Surabaya
(Belakang Stasiun Wonokromo)

 

 

 

Waktu: Sabtu, 10 Sya’ban 1430 H / 1 Agustus 2009, pukul 08.00 sd. selesai

 

 

 

Contact Person:

 

1. Abd.Ghaffar : 0818336621
2. Zuhri : 081357113933
3. Fathur Rahman : 081357385317, 031-71373773

 

 

 

2.      JAKARTA

 

Pemateri:

 

·       Asy Syaikh Abdullah bin Shalfiq Al Qasimi Azh Zhafiri

 

·       Asy Syaikh ‘Ali bin Yahya bin ‘Ali bin Muhammad Al Haddadi

 

 

 

Tempat: Masjid Al I’tisham, Jln Jend. Sudirman – Dukuh Atas Jakarta Pusat
(Belakang hotel Shangri-La/ Belakang Bank Muamalat)

 

 

 

Waktu: Ahad, 11 Sya’ban 1430 H / 2 Agustus 2009. Pukul 09.00 s.d selesai

 

 

 

Tema: “Jalan Keluar dari Problematika adalah Kembali kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dengan bimbingan para Ulamaâ€

 

 

 

Contact Person: 0811916896 – 081210005551 – 02192812630 – 08161996634 – 08159969402

 

 

 

3.      BANDUNG

 

 

 

Pemateri: Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri

 

 

 

Tempat:

 

Masjid Pusat Dakwah Islam (PUSDAI)
Jl.
Diponegoro 63 Bandung

 

Waktu: Ahad, 11 Sya’ban 1430 H / 2 Agustus 2009, Pukul 12.00 s.d Selesai

 

 

 

Tema: Menjalin Ukhuwah Meraih Ridho Illahi

 

 

 

Contact Person: Misbah 081806537669 / 02292373069

 

 

 

Sumber: www.salafy.or. id






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer